Senin, 06 April 2015

Es Cendol
Cendol merupakan minuman khas Indonesia yang terbuat dari tepung beras, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Rasa minuman ini manis dan gurih. Di daerah Sunda minuman ini dikenal dengan nama cendol sedangkan di Jawa Tengah dikenal dengan nama es dawet. Berkembang kepercayaan populer dalam masyarakat Indonesia bahwa istilah "cendol" mungkin sekali berasal dari kata "jendol", yang ditemukan dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia; hal ini merujuk sensasi jendolan yang dirasakan ketika butiran cendol melalui mulut kala meminum es cendol.
Tepung beras diolah dengan diberi pewarna hijau dan dicetak melalui saringankhusus, sehingga berbentuk buliran. Pewarna yang digunakan awalnya adalah pewarna alami dari daun pandan, namun saat ini telah digunakan pewarna makananbuatan. Di Sunda, cendol dibuat dengan cara mengayak kukusan tepung beras yang diwarnai dengan daun suji dengan ayakan sehingga diperoleh bentuk bulat lonjong yang lancip di ujungnya. Di Sunda, minum cendol disebut 'nyendol'.
Minuman ini biasanya disajikan sebagai pencuci mulut atau sebagai makanan selingan. Sesuai disajikan disiang hari.

Soto Lamongan

Soto Lamongan berbeda dengan soto yang lain. Soto ini satu-satunya soto yang menggunakan koya, sebuah kelengkapan soto yang menjadi pencirinya. Makanan berkuah yang termasuk kategori soto ayam ini menggunakan daging ayam kampung yang terlebih dahulu dimasak dengan bumbu.
Kuah soto Lamongan pada mulanya termasuk kuah bening, namun pada perkembangannya ada percampuran dengan kuah soto Surabaya yang ditambahkan bandeng sebagai bumbu kuah sehingga kuah menjadi keruh. Soto Lamongan memang khas, rasanya segar dan enak sehingga hampir di seluruh kota di Jawa dijual soto Lamongan. Jadi tepatlah jika rajanya soto adalah soto Lamongan.
Asal-usul penggunaan koya tidak diketahui secara pasti, namun koya dibuat dari kerupuk udang, udang dan bawang yang semua digoreng terlebih dahulu kemudian dihaluskan.
Cara menghaluskan bahan ini adalah dengan ditumbuk secar manual dan tidak boleh digiling karena akan menciptakan cita rasa yang berbeda.
Sajian soto Lamongan dari atas tampak taburan koya yang sedikit merah kecoklatan. Mencoba mencicipi koya sendiri akan terasa sangat gurih dengan aroma udang dan bawang yang khas.
Biasanya orang menggunakan koya satu sendok saja untuk setiap mangkuk soto, namun adapula yang menambahkan dalam jumlah yang cukup banyak hingga kuah menjadi kental dan gurih.
Soto Lamongan dilengkapi dengan telur (telur rebus atau uretan telur). Kuahnya yang berwarna agak kuning dipadukan dengan hijaunya seledri dan daun bawang (bawang pre) membuat kombinasi warna yang menarik. Mie soon tampak berada berada paling bawah dalam mangkuk dan akan menjadi empuk oleh panasnya kuah.
Sepiring nasi putih menyertai soto Lamongan untuk satu buah porsi nasi-soto pisah. Sedangkan untuk nasi soto (campur), nasi akan ditata pada posisi paling bawah, kemudian baru bahan yang lainnya diatasnya. Bahan penyedap yang lain seperti jeruk nipis ditambahkan untuk memberikan rasa asam. Saat akan menyantapnya, campur terlebih dulu agar koya, air jeruk, dan sambal (selera) menyatu dalam kuah.
Gurih, segar sedikit masam, dan pedas dengan aroma khas soto yang menawan, inilah komentar pertama ketika mulai menikmati soto Lamongan.
Bumbu kuah inilah kuncinya hingga soto terasa lezat dan lebih lengkap dari soto lainnya karena terbuat dari bumbu yang terdiri dari bumbu ketumbar, jinten, sere, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, merica, garam dan kemiri, dengan pelengkap bawang goreng. Rasa pedas diperoleh dari jahe dan lada yang berada dalam bumbu serta sambal yang ditambahkan ketika akan menyantapnya.
Dengan perasan jeruk nipis yang membuat soto terasa sedikit asam justru membuat soto lebih terasa segar, berinteraksi dengan minyak-minyak yang terlihat menyendiri di kuah sehngga menimbulkan rasa perpaduan gurihnya minyak dan segarnya jeruk. Daging ayam terasa empuk dan gurih karena sebelumnya telah direbus dalam bumbu kunyit, jinten, jahe, bawang merah, dan daun jeruk. Kelezatan soto Lamongan ini akan membuat Anda setuju dengan sebutan “Soto Lamongan Rajanya Soto“.

Lontong Balap Surabaya

Lontong balap

Lontong balap adalah makanan khas Indonesia yang merupakan ciri khas kota Surabaya di Jawa Timur. Makanan ini terdiri dari lontongtaogetahu gorenglenthobawang gorengkecap, dan sambal. Lontong balap terdiri dari lontong yang diiris-iris dan di atas irisan lontong ini ditumpangi irisan tahu dan remasan beberapa lentho (bulatan kecil sebesar ibu jari dan dipencet ini bentuk lentho asli lontong balap, berbeda dengan lentho yang dipakai sekarang), kemudian di atasnya ditumpangi kecambah setengah matang yang porsinya terbanyak dalam hidangan, setelah itu diambilkan kuah secukupnya, sambal dan kecap disesuaikan selera pembeli. Makanan ini dihidangkan dengan pasangannya yaitu, beberapa tusuk sate kerang.

Sejarah nama

Menurut cerita dahulu lontong balap masih dijual dalam kemaron besar yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, yang berat dan dipikul keliling kota. Kemaron besar yaitu wadah terbuat dari tanah liat (dibakar menjadi warna merah bata). Karena bobot kemaron yang berat, sekarang tempat ini diganti dengan panci yang terbuat dari logam. Para penjual lontong balap ini, untuk berebut pembeli di perjalanan dan pembeli di pasar berjalan cepat-cepat menuju pos terakhir di Pasar Wonokromo, dari jalan cepat ini menimbulkan kesan berpacu sesama penjual (dalam bahasa Jawa: balapan), dari balapan ini kemudian dikenal dengan nama lontong balap.

Penjual lontong balap pada zaman dulu didominasi oleh penjual dari Kampung Kutisari dan Kendangsari yang sekarang menjadi wilayah Surabaya Selatan. Dari Kutisari-lah makanan lontong balap berasal. Kampung Kutisari dan Kendangsari, pada kenyataannya, keduanya sama-sama berjarak lebih kurang 5 km dari Pasar Wonokromo. Karena lontong balap dikenal luas oleh masyarakat dari Pasar Wonokromo yang sekarang berubah nama menjadi DTC, nama tempat itu pun melekat serta menjadi ciri khas nama masakan "Lontong Balap Wonokromo" yang untuk masa sekarang disebut lontong balap.
Pada masa sekarang lontong balap lebih sering dijual dalam kereta dorong dan warung, meski demikian nama lontong balap tetap tidak berubah. Lontong balap juga adalah makanan favorit orang Surabaya.

Minggu, 05 April 2015


 Gethuk.

Berbicara tentang makanan khas Magelang, sebenarnya ada banyak sekali makanan khas dari magelang, mulai dari tape ketan hijau, tahu kupat, bakso krikil, sampai gethuk. Tapi jika harus menyebutkan mana yang paling khas dari magelang, tentu gethuklah jawabannya. Ya, karena memang gethuk adalah makanan yang sangat khas dan identik dengan Magelang. Bahkan saking identiknya, Magelang sering dijuluki sebagai kota gethuk.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT5-Y5esJTxB4mtn20eVVdxeG6h0cE7RcDfQ1LyfSpi0EQEMxIfrrH51Wd_hZ9gq7K_jbKSWOuT7C53iB38iNiET6Pj2i4tpxuLvyO8Ys9UQkNWDodMwojqRadnj71WxU2PLzEhreIEnY/s1600/10.jpg

Gethuk dikenal sebagai makanan khas magelang yang punya cita rasa tinggi. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut serta kenyal, ditambah dengan gurihnya parutan kelapa membuat gethuk mampu menyihir semua penikmatnya (ciaelah). Di Magelang sendiri, gethuk sangat digandrungi, tak hanya oleh penduduk setempat, tapi juga oleh para turis baik lokal maupun mancanegara yang pernah singgah di magelang dan sempat mencicipi gethuk magelang yang tak ada bandingannya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxADkZq_xbzIU-r74VRr2rCjsG8YhrEeZs-Dmof1Y6NszjN5uH7IM_zAOcZGKX7z4YsfcyUwpKc5ienPbvsZYmj103EgQXxt7r1ATGg-K8j3kVwLM1JmxacLsXGjj65w27hrY05QSpO3M/s1600/11.jpg 
Salah satu varian Gethuk Magelang

Maka tak mengherankan jika gethuk banyak disajikan sebagai menu utama di berbagai acara penting di Kota dan kabupaten Magelang, terutama acara saresehan, dialog pemerintahan, sampai acara penyambutan tamu penting. Bahkan konon katanya, Gethuk disajikan sebagai menu makanan pembuka di Amanjiwo Resort and Hotel saat penyambutan David Bechkam sekeluarga ketika mereka berkunjung ke Borobudur dan menginap di hotel tersebut.

Hal ini tentu sangat kontras ketika mengetahui bahan baku apa yang digunakan untuk membuat gethuk. Karena asal tahu saja, ternyata bahan baku utama gethuk adalah ketela atau singkong, makanan yang selama ini bagi sebagian banyak orang dianggap sebagai makanan kampungan. Bahkan dalam lagunya yang berjudul Singkong dan keju, Arie Wibowo dengan tegas menunjukkan betapa mewahnya keju, dan betapa ndeso-nya singkong.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwD_NC9yXV6eexiirdNp4jnBmkyn7t5Mq7IV-1mX76mGufS6gjvXgNcRfjOsEuooFTq1mpYBxqLidSkc_zNg1aX0hLGoo0OfTVmQPYpXRzU_ihQcfvKx03mYHjkKQiP6Zwww7RB4Jx67Q/s1600/telo1.jpg 
Ketela atau Singkong, Bahan baku utama Gethuk

Jadi boleh dibilang, gethuk adalah perwujudan singkong yang naik kasta. dari tadinya hanya sebuah singkong yang dianggap sebagai makanan kampungan, kemudian diolah menjadi gethuk yang dianggap sebagai makanan berkelas penuh cita rasa.

Angsle...

Pernahkah Anda mendengar jajanan angsle? Bagi masyarakat Jawa Timur, kuliner sedap ini sudah tidak asing lagi. Wedang angsle atau sering disebut angsle merupakan sajian kuliner Indonesia yang bentuknya menyerupai kolak. Dahulu penjual angsle berkeliling kampung pada malam hari saja, mengingat kuliner ini memang sangat pas disajikan malam hari, namun sekarang banyak inovasi pedangang sehingga penjualan ansgle tidak hanya malam hari saja.
Angsle terbuat dari bahan-bahan yang sederhana namun unik, seperti petulo, beras ketan, kacang hijau, roti, mutiara, daun pandan dan jahe, adapula yang mencampurkan kacang tanah untuk menambah selera. Dari bahan-bahan tersebut memang sangat pas jika disantap saat malam hari atau ketika musim hujan. Paduan isinya yang dicampur dengan santan panas, sangat cocok untuk menambah stamina tubuh dari cuaca dingin sekaligus penunda rasa lapar.
Semua bahan angsle yang mengandung gizi ini dicampurkan dalam satu mangkok, tentunya semua sudah melewati proses pemasakan terlebih dahulu, seperti kacang hijau , mutiara, dan petulo yang butuh proses untuk mematangkannya. Kuah yang digunakan dari santan alami yang sudah tercampur dengan gula serta jahe, penyajiannya saat panas sehingga pas sekali angsle dijadikan makanan pendamping saat musim hujan.
Kuliner asli Indonesia ini memang belum banyak tersebar di pelosok negeri sehingga beberapa daerah saja yang kerap mudah dijumpai jajanan ini. Indonesia memang sangat banyak mempunyai sajian kuliner khas nya yang tak tertandingi jika dilihat dari sudut makin banyaknya makanan-makanan luar negeri siap saji. Angsle pun sudah ada sejak era atau masa kakek nenek kita, sehingga agar kuliner ini tidak termakan waktu sampai hilang, generasi muda yang peduli akan kuliner khas Indonesia perlu melestarikannya, tidak hanya dengan berbisnis melainkan menikmati semangkuk angsle pun Anda sudah menjaga kelestarian serta keberadaan kuliner asli kita.
Mantap bukan sajian angsle saat malam atau musim hujan, bagi Anda yang gemar berwisata kuliner jangan lewatkan untuk menikmati kehangatan angsle. Sajikan dengan keluarga atau kerabat Anda agar kehangatannya makin terasa. Lestari selalu kuliner Indonesia, dan berbanggalah kita memiliki banyak kekhasan dalam hal makanan.